Selasa, 09 Agustus 2016

Pasar Ritel Malaysia tumbang, Indonesia harus siap-siap juga

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Tertundanya pembukaan beberapa mal dan tumbuhnya e-commerce membuat pengalaman berbelanja di Malaysia mulai terlihat suram dari biasanya.
Pemandangan terkait kondisi pusat perbelanjaan di Malaysia berada di persimpangan dengan mal-mal baru tertunda pembukaannya dan ditutupnya mal lain secara bersamaan.
Hal ini menunjukkan kondisi dan situasi ritel Malaysia disebut-sebut seperti kembali ke krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an.
"Setelah 1998 banyak hal kembali cukup cepat tetapi untuk sekarang ini adalah yang paling sulit. Ada lebih banyak variabel, lebih banyak kompetisi dan isu-isu kelebihan pasokan. Jadi ini akan menjadi pekerjaan yang jauh lebih sulit," jelas Direktur Savills Malaysia Allan Soo.
Di sepanjang semenanjung, kombinasi mematikan antara konsumen yang berubah-ubah dan kelebihan pasokan ruang ritel merugikan operator mal.
Meningkatnya minat belanja online juga nampaknya memberikan pengaruh cukup besar pada pasar ritel di Malaysia.
Di Kuala Lumpur, Melati Mall, sebuah pusat belanja senilai 670 juta ringgit hasil patungan antara Sime Darmy Property Bhd dan CapitaLand Malls Asia akan menunda pembukannya yang dijadwalkan pada tahun ini menjadi kuartal II-2017 nanti.
Sementara itu di Penang, Perda City Mall ditutup dalam waktu singkat dan hanya memberi waktu sehari bagi para penyewa untuk menutup tokonya. Mal ini hanya beroperasi selama 18 bulan.
National Property Information Centre melaporkan kelebihan pasokan menghantui pasar ritel Malaysia. Sekitar 150,5 hektar ruang ritel sedang dikembangkan di seluruh Malaysia dan sebanyak 1.383 hektar saat ini sudah eksis.
Akan tetapi, tingkat hunian rata-rata untuk mal di Kuala Lumpur dan Selangor ada di angka 82 persen dan 79 persen pada 2015. Angka ini turun bila dibandingkan tahun 2014 yang berhasil mencatatkan 83,2 persen dan 81,7 persen masing-masing.
Bukan hanya itu, rata-rata sewa per bulan juga turun menjadi sekitar 133 ringgit atau Rp 433.000 per meter persegi per bulan dari sebelumnya 144 ringgit atau setara dengan Rp 469.000 per meter persegi per bulan.
Selain itu meningkatnya e-commerce juga semakin memperburuk pasar ritel di Malaysia. Sebuah survei di sana baru-baru ini menunjukkan, setengah dari pembelanja Malaysia membeli sesuatu secara online setidaknya sebulan sekali dan hanya 7 persen responden yang tidak pernah berbelanja online.
sumber: http://properti.kompas.com/read/2016/08/09/070000121/Pasar.Ritel.Malaysia.Tumbang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar